Thursday, June 25, 2020

Sejumput Kisah Mengawali Hari





 
Pagi hari adalah waktu dimana orang-orang mengawali rangkaian kegiatannya  untuk sehari penuh. Di saat itu, udara yang dihirup masih terasa segar, tubuh masih bugar, fikiran masih jernih, penuh ide dan stock semangat yang masih melimpah. Oleh karena itu, mengawali pagi dengan melakukan hal-hal baik akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi para pelakunya. Baginda Rasulullah saw memohon keberkahan umatnya diawal hari mereka. Seperti yang terdapat pada hadis riwayat Tirmizi, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya”

Ketika masjid mulai memperdengarkan suaranya dan ayam jantan telah berkokok bersahutan maka duniapun mulai menampakkan geliatnya. Orang-orang mulai sibuk beraktifas menyiapkan segala sesuatunya untuk hari itu. Demikian pula dalam sebuah keluarga, ayah, Ibu dan anak-anak mulai mengambil perannya masing-masing dalam memulai hari.

Bagi seorang ibu, pagi hari adalah masa yang paling menyibukkan dan menguras energi. Banyak hal yang harus dilakukan secara bersamaan di waktu ini. Membangunkan anak-anak, menyiapkan makanan sebagai sumber energi keluarga, membersihkan rumah yang seakan tidak pernah ada akhirnya, serta aktifitas-aktifitas lainnya. Dan salah satu kegiatan yang sering menimbulkan drama pagi-pagi adalah proses membangunkan anak dan menyiapkan mereka untuk bersekolah.

Pada tulisan kali ini, saya akan menceritakan sebuah kebiasaan memulai hari yang dilakukan oleh seorang ibu yang masih dilakukannya sampai saat ini dan telah menurun menjadi kebiasaan anak-anaknya  bahkan ketika mereka sudah berkeluarga.

Terkadang kegiatan membangunkan anak adalah kegiatan yang menjadi momok dan menyita waktu bahkan energi.  Anak yang masih mengantuk dan kesulitan membuka mata, tempat tidur yang hangat dan nyaman, serta udara yang masih segar adalah kondisi yang sulit untuk membuat anak terjaga dari tidurnya. Sedangkan bagi seorang ibu, semua kegiatan termasuk membangunkan anak harus dilakukan dengan cepat, tepat dan bermutu. Mengapa harus bermutu? Karena anak yang bangun dalam kondisi rewel akan menambah pekerjaan baru bagi ibu. Oleh karena itu membangunkan anak perlu dilakukan dengan jurus yang jitu

Banyak cara yang dilakukan ketika membangunkan anak. Mulai dari membujuknya, meneriakkan berbagai kata motivasi (baca: ancaman) yang bahkan bisa didengar oleh tetangga sebelah, bahkan ada yang sampai harus menyiramkan air. Semua cara tersebut adalah pilihan, dan kita bisa memilih cara yang lebih baik.

Ibu ini membangunkan anak-anaknya dengan sebuah ritual yang mungkin saja dikeluarga lain juga memiliki ritual yang sama. Beliau selalu menjadi orang yang pertama bangun di rumah itu. Sebelum masjid berbunyi demikian juga sahutan ayam jantan yang masih sepi, beliau sudah memulai aktifitasnya. Hal pertama yang dilakukannnya adalah mandi. Mandi sebelum subuh bagi beberapa orang adalah sesutu yang berat. Salah satu alasannya adalah takut kedinginan. Namun tidak bagi beliau. Maka tidak mengherankan jika wajahnya masih nampak awet mudah di usianya yang mulai mendekati senja. Mandi sebelum subuh menjadi energi untuknya sebelum terjun dalam aktifitas hariannya yang padat. Setelah itu, beliau mendirikan sholat lail dan mengakhirinya dengan doa yang panjang untuk semua anggota keluarganya.

Setelah melakukan kegiatan tersebut, beliau lalu mengambil teko tempat air minum, mengisi nya sampai penuh, dibacakan doa-doa yang telah dipelajarinya dari mendengarkan ceramah ustadz maupun membacanya langsung dari al-Quran. Selanjutnya beliau beranjak mendatangi tempat tidur anaknya satu demi satu. Sang anak di panggil dengan suara yang tenang disertai sentuhan lembut baik itu di wajah, tangan atau ataupun kaki sang anak, bagian mana saja yang bisa disentuh olehnya. Yang ternyata dalam sentuhannya tersebut beliau senantiasa menyelipkan doa yang isinya harapan bagi sang anak. Anak yang sudah menggeliat dan sedikit tersadar karena sentuhan maupun suara ibu lalu diajak untuk berdoa. Anak tersebut lalu disodori gelas yang berisi air minum tadi. Sang anak yang tingkat kesadarannya mulai naik ke tingkat awas lalu diminta untuk memegang sendiri gelas tersebut. Otomatis sang anak harus menjaga agar gelas yang berisi air tersebut tidak tumpah. Mereka harus konsentrasi dan tidak boleh bermalas-malasan memegang gelas tersebut atau kalau tidak, maka yang terjadi adalah gelas tersebut akan jatuh dan airnya akan tertumpah sehingga membasahi tempat tidur. Selain itu, beliau menyuapkan sesendok madu sesaat setelah anak memegang gelas. Yang secara otomatis setelah meminum madu dari suapan ibu membuat anak buru-buru meminum air tersebut hingga tandas. Anak yang sudah minum sambil memegang sendiri gelasnya pastinya telah memiliki kesadaran penuh sehingga ibunya tidak lagi butuh banyak kata-kata untuk mengajak anaknya bangkit untuk melaksanakan sholat subuh.

Ritual seperti ini senantiasa telah menjadi kebiasaan di rumah tersebut. Semua anak-anaknya telah memahami kebiasaan ibunya. Hal ini kemudian diikuti oleh anak-anaknya. Mereka menyadari bahwa yang dilakukan ibunya adalah sesuatu yang baik yang mendatangkan keberkahan. Berkah tersebut diperoleh dari doa tulus sang ibu, air putih dan madu sebagai asupan energi di pagi hari dan juga kata-kata motivasi yang disertai dengan kelembutan sentuhan tangan ibu yang mengusap wajah sang anak ketika dibangunkan. Untaian kata-kata yang disampaikan pada anak pada saat bangun tidur dapat tersimpan dengan baik dalam memorinya. Pada saat itu gelombang otak bekerja di alam bawah sadarnya. Dengan demikian setiap kalimat yang sampaikan menjadi sebuah mantra ajaib untuk seorang anak. Kalimat yang baik berupa pujian bahkan kalimat yang buruk berupa makian akan terus menempel pada diri anak hingga ia dewasa kelak.

Di atas tadi hanyalah sedikit kisah dari seorang ibu yang kini telah menjadi teladan bagi anak-anaknya. Jejak dari kebiasaan baik seorang ibu dapat menjadi jalan bagi anak-anaknya menuju surga. Bagaimanapun hidup adalah pilihan. Hak bagi setiap orang memilih untuk memberi lebih baik bagi diri dan keluarganya. Dan Semoga dengan tulisan ini, bisa menjadi inspirasi bagi kita dalam mengawali hari dengan kebaikan.


by Uswatun Hasanah

15 comments:

Syamsidar HS said...

Ibu teladan

Rina Novianty said...

Emak super...penuh dengan inspirasi..😍

utsukushigirl said...

I love you mom 😗

Unknown said...

MasyaAllah Bu. Adem sekali membacanya. 🤩🤩🤩

Mata Air said...

Emank andalan...

ummu izzl said...

Wah anaknya muncul 😁🤗

ummu izzl said...

Alhamdulillah

Semoga kisahnya menginspirasi

ummu izzl said...

Semangat bu rina

Semoga selalu istiqamah berbagi inspirasi

ummu izzl said...

Alhamdulillah

Semoga bermanfaat😍🙏

ummu izzl said...

Heheh

Semoga bermanfaat pak🙏

spiritliterasi.com said...

Inspiratif

LisjayaIcha said...

Maa syaa Allah ma'am.. terimakasih ilmunya ma'am

umizahy said...

Masya Allah

Aisyah Rusnali said...

Harus banyak belajar dari emak teladan ini...

Sri Wahyuni said...

Inspiratif😍🤩
The power of mom

JANGAN LAGI ADA IBU MALIN KUNDANG

Oleh: Uswatun Hasanah Pernahkah anda dikecewakan? Bagaimana rasanya? Pastinya menyakitkan. Apalagi jika kita dikecewakan ole...