Oleh: Uswatun Hasanah
Pernahkah anda dikecewakan? Bagaimana rasanya? Pastinya menyakitkan. Apalagi
jika kita dikecewakan oleh orang terdekat kita. Kita telah menaruh harapan
besar kepadanya namun yang kita doapatkan hanya rasa sakit hati karena
kecewa.
Kecewa bisa dialami oleh siapa saja, bisa dirasakan dikalangan usia
manapun, juga bisa dirasakan oleh seorang ibu. Ibu yang dikecewakan oleh
anaknya. Salah satu kisah santer yang pernah kita dengar ketika kita kecil
mengenai kisah seorang ibu yang dibuat kecewa dan hancur hatinya oleh ulah
anaknya yang durhaka, yakni kisah Si Malin
Kundang.
Ibu Malin telah merawat anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan berat
hati harus rela berpisah dengan sang buah hati yang sangat dicintainya itu. Dan
dikala waktu yang telah dinantikan tiba. Sang anak tidak mengakui keberadaan
ibunya. Ia malu memiliki ibu yang miskin sedangkan Malin telah menjadi sosok
yang hebat dan kaya raya. Malin lupa diri. Ia lupa dengan semua pengorbanan
ibundanya. Rasa sedih yang mendera sang ibu membuat amarah ibu Malin bangkit sehingga
ia mengutuk sang anak menjadi batu.
Kisah ini membawa hikmah. Jangan durhakai ibumu. Jangan kecewakan perempuan
yang telah merawatmu dengan sepenuh hati. Yang telah menghabiskan masanya demi
merawatmu dengan penuh kasih sayang. Sang anak harus berbakti menjadi anak yang
patuh dan hormat kepada orang tuanya bagaimanapun kondisinya, termasuk ibunya.
Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, apakah yang dilakukan oleh ibu
Malin adalah sesuatu yang dapat dibenarkan? Apakah pantas seorang ibu yang
marah kepada anaknya lantas dapat dengan mudah melontarkan kata-kata kutukan
kepada sang anak? Disini kita tidak menafikan kelakuan durhaka Malin kepada
ibunya. Namun tidak lantas begitu saja membenarkan apa yang dilakukan oleh sang
ibu.
Dikecewakan oleh anak yang telah dirawat sepenuh cinta pastinya sesuatu
yang berat dan menyedihkan. Anak adalah investasi terbesar yang dimiliki orang
tua. Para orang tua menaruh harapan kepada diri sang anak. Karena alasan
itulah, para orang tua rela menghabiskan waktunya, mencurahkan segala kasih
sayangnya, memberikan seluruh hartanya demi memenuhi keperluan sang anak. Seakan-akan
apa yang telah dan selalu kita lakukan suatu saat akan dibayar oleh anak dimasa
yang akan datang dengan cara menuruti segala keinginan kita.
Sebagai orang tua, terutama ibu, kita memiliki impian melihat anak-anak
kita tumbuh dan berkembang dengan baik hingga ia dewasa. Kita merasa dengan
memilihkan sesuatu yang sesuai dengan ukuran kita, itulah yang terbaik baginya.
Kita lupa, anak kita juga manusia biasa yang memiliki impian dan standarnya
sendiri. Sudah seharusnya kita memberikan waktu, harta, cinta dan kasih sayang
kepada anak tanpa syarat. Anak adalah titipan. Sesuatu yang dititip pada
dasarnya bukanlah milik kita. Kita hanya bertugas menjaga dan merawatnya
dengan penuh cinta karena ia adalah amanah yang Allah berikan kepada kita. Amanah
patut dijalankan dan ketika amanah itu telah selesai, maka kita patut melepasnya
dengan lapang dada.
Dalam kisah Malin Kundang, penulis tidak tahu bagaimana perasaan sang ibu
selanjutnya setelah ia mengutuk anaknya. Menyaksikan anak sendiri mati dan kaku
menjadi batu apakah kemudian memunculkan penyesalan atau justru kepuasan pada
diri sang ibu.
Ibu yang memiliki kasih sayang tak terbatas, pasti akan sedih ketika
melihat anaknya menderita. Ia rela mengorbankan dirinya agar anak tidak sengsara.
Namun betapa menyakitkannya ketika kesengsaraan yang dirasakan oleh anak adalah
akibat dari perkataan keramat yang dilontarkan oleh ibu yang penuh amarah. Kita
pernah mendengar “Perkataan adalah Doa”. Setiap perkataan ibu yang diucapkan
untuk anaknya dapat mewujud menjadi nyata. Maka seorang ibu sudah seharusnya
berkata yang baik kepada anak agar apa yang diucapkannya itu juga membawa
kebaikan kepada anak. Betapapun amarah ibu kepada anak, ibu sebaiknya menahan
diri berkata yang tidak pantas.
Ibu yang memiliki kasih sayang tak terbatas, dapat membuka pintu maaf untuk
anak-anaknya. Memberikan kesempatan pada anak untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki
dirinya Mendokan yang terbaik bagi
mereka, memohon kepada Allah agar anak dapat menjadi hamba yang sholeh dan taat
kepada orang tua. Jangan lagi ada ibu Maling Kundang lainnya yang dapat dengan
mudah mengucapkan kata-kata kutukan kepada sang anak hanya karena ia kecewa
telah disakiti oleh sang buah hati. Kita harus menyadari segala sesuatu yang
ada di dunia adalah milik Allah, maka selayaknya kita kembalikan pula kepada
Allah. Kita tidak berhak menghukumi
sesutu yang bukan milik kita. Kita hanya dapat mengadu kepada Allah dan
memohon yang terbaik. Karena semuanya akan kembali kepada Allah. Kita hanya bisa berharap
dapat kembali kepadaNya, berkumpul bersama keluarga yang kita cintai dalam naungan ridho-Nya.

3 comments:
betul bu, banyak ditemukan emmak2 yg kadang melontarkan perktaan yg kurg baik pd anaknya, mereka tdk sadar bhw perkataannya itu doa yg bisa saja diaamiinkan oleh malaikat. Pelajaran berharga buat sy bu.Terima kasih.
Emak super....mantap dinda
Hebat bu.Kata2 ibu adalah doa, sehingga seorang ibu harus hati dalam memanage emosi dan kekesalannya. Semoga Allah membantu menjaga lisan kita dan semoga kita bisa selalu berkata positif walaupun dlm keadaan kesal
Post a Comment