Oleh: Uswatun Hasanah
Pada tulisan sebelumnya, telah dibahas mengenai peranan ibu dalam mengantar
anaknya masuk ke dalam surga. Salah satunya adalah dengan memberi teladan
kepada anak-anaknya. Seorang anak adalah cerminan dari orang tuanya. Orang tua
merupakan salah satu faktor penentu terbentuknya karakter seorang anak. Dan ibu
adalah sosok yang paling penting bagi seorang anak. Dimulai sejak ia masih
dalam kandungan, ketika terlahir ke dunia , bahkan ketika seorang anak tersebut
telah dewasa dan menjadi orang tua, ia tetaplah menjadi anak dari seorang ibu. Oleh
karena itu ibu harus dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Sebagaimana pepatah arab yang mengatakan “ ibu adalah madrasah pertama bagi
seorang anak”. Ada Banyak hal yang bisa dijadikan teladan dari sosok seorang
ibu. Salah satu hal yang sangat memberi pengaruh terkait keteladan seorang ibu
adalah cara berkomunikasi atau berbicara kepada anak-anaknya.
Seorang wanita terlahir berbeda dari pria. Mereka berbeda secara anatomi,
emosional serta pembawaannya. Ia adalah sosok yang unik penuh misteri. Struktur
otak wanita telah didesain khusus oleh Allah swt sebagai makhluk yang kelak
menjadi malaikat tak bersayap bagi seorang anak manusia. Pusat verbal pada otak
wanita lebih dominan pada pria. Jika seorang pria bisa menghasilkan 7000 kata
setiap hari, maka wanita bisa menghasilkan kata 3x lipat. Penulis tidak tahu apakah
ada hubungan antara hadis nabi yang mengatakan bakti kepada ibu 3x lipat dari
ayah, karena ibu punya 3x lipat kemampuan berbahasa yang harus dipahami seorang
anak ( #Just kidding). Oleh karena itu, seorang ibu merupakan
komunikator ulung. Yang kelak merupakan guru pertama seorang anak yang akan
mengajari banyak hal tentang tujuan dia diciptakan di dunia ini. Yakni untuk
beribadah kepada Allah swt. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (Qs. Az zariyat;56)
Dengan kemampuan verbal/ berbahasa yang dimiliki seorang ibu. Maka penting
bagi seorang ibu mengetahui cara berkomunikasi yang baik. Dan al-quran telah
memberikan panduan terkait hal itu. Dalam tulisan kali ini, penulis akan
menguraikan beberapa panduan dalam berbicara (baca: Qaulan) yang bisa dijadikan
tuntunan bagi seorang ibu dalam berkomunikasi.
- Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik)
Ibu ketika berbicara kepada anaknya, hendaklah
berbicara dengan cara yang baik, santun, tidak melukai perasaan anak, berbicara
sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian, secara tidak
langsung ia akan memberi contoh kepada anaknya tentang bagaimana cara berbicara
yang baik. Orang tua memberi teladan Qaulan Ma’rufa contohnya dengan cara berbicara yang jujur
kepada anak. Namun terkadang ada segelintir orang tua yang dengan tega
membohongi anak dengan janji-janji manis agar anak yang tadinya merengek bisa
cepat tenang agar ibunya yang sedang sibuk bekerja di dapur atau melakukan
aktifitas lainnya tidak terganggu. Cara instan menenangkan anak ini secara
tidak langsung mengajarkan anak kita untuk berbohong dan membuat mereka tidak
percaya kepada orang tuanya. Oleh karena itu, qaulan ma’rufa perlu senantiasa
kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga kita sehingga kelak
terbentuk karakter yang ma’ruf pula dalam diri seorang anak
- Qaulan Sadida (perkataan yang tegas dan benar)
- Qaulan Layyina (perkataan yang lemah lembut)
Sudah selayaknya seorang ibu berbicara yang lembut
kepada anaknya, berbicara disertai dengan senyuman, wajah yang ceria, dan candaan yang
menghangatkan. Karena bagaimanapun, ibu adalah sosok yang selalu dirindukan
seorang anak. Kelembutan yang ada padanya menjadi obat penenang hati. Seorang anak
akan merasa nyaman berada dekat dengan ibunya ketika ibunya berkata yang
lembut. Ketika ia merasa nyaman, maka seorang anak tidak perlu lagi mencari
kenyamanan di tempat yang lain. Seorang anak yang nyaman dengan ibunya, akan mudah berkomunikasi dengan orang tuanya, sehingga anak dapat dengan
mudah curhat dengan orang tuanya. Dengan demikian orang tua dapat
membantu anak-anak mereka menangani masalah yang meraka hadapi tanpa perasaan
was-was. Anak-anak yang merasa nyaman dengan orang tua mereka tidak lagi
membutuhkan tempat pelarian yang bisa saja memberi memberi dampak buruk bagi
mereka.
4
- Qaulan Balighoh (perkataan yag membekas pada jiwa)
Pada postingan sebelumnya, dikatakan bahwa surga
berada di telapak kaki ibu. Yang mana telapak ini kelak akan meninggalkan
jejak/bekas. Maka seorang ibu dapat meninggalkan jejak berupa perkataan yang
terus membekas. Perkataan membekas ini
bisa berupa nasehat ataupun peringatan yang mengandung pelajaran hidup bagi
diri anak. Orang tua yang memberi bekal pendidikan kepada anak-anaknya harus
memiliki kemampuan berbicara yang
memberi pengaruh positif. Ucapan yang kita lontarkan harus berbobot,
bukan hanya kata tanpa makna. Kata-kata yang efektif, komunikatif, straight
to the poin akan lebih mudah dipahami oleh anak. Ibu yang cerdas dapat
menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat intelektual anak. Mereka menggunakan
bahasa yang dapat dengan mudah dipahami oleh anak-anaknya. Berapapun usia
mereka. Seorang ibu bisa menempatkan dirinya ketika berbicara pada anak. Mereka
bisa menjadi teman, sahabat, kakak, sekaligus ibu yang senantiasa mengayomi.
Sebagaimana hadits nabi “Berbicaralah kepada manusia
sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka”
(H.R. Muslim).
5
- Qaulan Maisura ( perkataan yang mudah)
Qaulan maisura bermakna perkataan yang mudah
dicerna, mudah dipahami. Kata-katanya menyenangkan atau berisi kabar gembira
bagi yang mendengarkan. Seorang ibu yang dibekali kemampuan verba yang luar
biasa, bisa saja menggunakan bahasa yang overdosis. Terkadang seorang ibu yang
ingin membangunkan anaknya harus mengeluarkan kata yang jika seandainya
dituangkan dalam sebuah tulisan maka bisa menjadi sebuah essay yang lengkap
mulai dari pendahuluan sampai kesimpulan. Belum lagi dengan intonasi yang
beragam, mulai dari sopran, mezzo sopran sampai di level alto. Pun ditambah
dengan kecepatan super sonik yang menghasilakn banyak kata persekian detik. Hal
demikian terkadang lupa disadari oleh ibu, bahwa sesungguhnya anak mereka butuh
waktu untuk mencerna bahasa ibu.
Dari uraian di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa
tanggung jawab kita sebagai manusia bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap potensi
yang kita miliki semua mengandung hikmah. Demikian pula potensi berbahasa yang
dimiliki oleh seorang ibu. Sudah sepatutnya digunakan untuk berkata yang baik
sesuai syariat yang diajarkan agama kita. Setiap perkataan ini telah ada
panduannya, sehingga seorang ibu yang menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya
kelak dapat menjadi sebenar-benar syurga bagi mereka. Pun setiap perkataan yang
kita lontarkan kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

9 comments:
Masyaa Allah...menyejukkan🥰
MasyaAllah. Keren
Tulisan hebat
Memank coretan emak luar biasa
Mantap de
TOP.. isinya dalem bgt bu.
Masya Allah...penulis adlh seorang emak,istri dan guru yg hebat😊
Mantap dinda
Insya Allah sllu diterapkan
Post a Comment