Oleh: Uswatun Hasanah
“Surga di telapak kaki ibu”. Hadis Rasulullah saw. ini sangat terkenal dan sudah seringkali kita dengarkan. Hadis ini mengagungkan posisi seorang wanita, ibu. Surga seorang anak manusia berada di telapak kaki ibunya. Bahkan dalam hadis lain, cinta seorang anak tiga kali lebih besar kepada ibunya, baru kemudian kepada ayahnya.
Ada apa dengan telapak kaki ibu? Apakah dengan mencium kakinya lantas kita seorang anak bisa mendapat jaminan berupa surga? Atau dengan bersujud kepada ibu, kita maka jalan menuju surga jadi lebih mudah. Dan masih banyak sekali makna yang bisa muncul dari hadis ini.
Jika melihat secara sekilas pada hadis ini, kita bisa langsung memaknai, bahwa hadis ini ditujukan pada semua anak-anak yang ada di dunia ini, bahwa sesungguhnya jika engkau inginkan surga, maka patuhi ibumu, hormati ibumu, sebagaimana arti secara bebas yang ada di atas tadi.
Tapi kali ini kita akan melihat dari sudut pandang yang lain. Sudut pandang bagi seorang ibu.
Telapak, ketika digunakan untuk berjalan, maka ia akan meninggalkan jejak. Mungkin pada tulisan ini kita bisa memaknai seperti itu. Seorang ibu adalah penuntun menuju surga bagi anak-anaknya. Lantas apa yang telah kita lakukan selama ini sejak kita menjadi orang tua. Sudahkan kita meninggalkan jejak yang kelak akan menuntun anak-anak kita menuju surga atau bahkan jejak itu hilang tak berbekas ditelan waktu?
Semua orang tua ketika mendapatkan rezeki dari Allah swt berupa anak-anak, maka akan menanamkan harapan dan doa kepada mereka. Harapan yang senantiasa kita dengarkan dari semua orang tua yang ada di dunia ini. “semoga kelak jadi anak yang sholeh/sholehah”, “semoga kelak menjadi orang yang sukses di dunia dan di akhirat”, “semoga tumbuh besar, sehat dan kuat, jadi anak berguna bagi orang tua, masyarakat, bangsa, dan negara”, dan masih banyak lagi doa dan harapan yang indah untuk anak-anak kita.
Lalu bagaimana dengan doa dan harapaan tersebut? Apakah doa itu hanya sampai di bibir saja dan mengering? Seiring bertumbuhnya anak-anak kita, jumlah anak yang semakin bertambah dikemudian waktu, aktifitas yang mulai semakin banyak dari hari ke hari, membuat kita lupa bahwa sesungguhnya dibalik harapan-harapan yang pernah kita lontarkan, menuntut kita untuk berikhtiar untuk mencapainya. Banyak orang tua yang kemudian sibuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mereka tidak ingin anak mereka menderita karena kebutuhan yang tidak terpenuhi,. Tapi semua kebanyakan hanya seputar pemenuhan materi yang terbatas pemakaiannya. Ya, pemakaian yang akan habis masanya di dunia ini. Lantas bagaimana bekal akhiratnya? Bukankah itu adalah tujuan utama kita sebagai orang tua adalah menjaga keluarga dan anak-anak kita dari jilatan api neraka dan bersama-sama berkumpul kembali di dalam surga.
Kita kembali pada hadits yang ada di atas.
Kebanyakan para orang tua, ketika sudah memenuhi kebutuhan anak-anaknya, mereka akan menuntut agar anak-anak tersebut harus patuh terhadap semua perintah dan larangannya. Tapi terkadang orang tua lupa, bahwa sesungguhnya, bukan hanya pemenuhan kebutuhan saja yang diperlukan seorang anak untuk sukses, ia perlu teladan dari orang tuanya sendiri. Di sinilah letak makna talapak kaki tadi. Apakah orang tua, terutama ibu, sudah memberi teladan yang baik pada anak-anaknya? Harapan mereka agar anak-anaknya menjadi sosok yang sholeh-sholehah sudah sudah didapatkan dari ibu yang sholehah pula? Berharap anak yang sholeh(ah) tapi sholat masih bolong, tilawah kapan-kapan, puasa hanya saat ramadhan saja, jarang tersenyum dan hanya bisa marah saja kepada anak. Apakah seorang ibu sudah menjadi contoh bagi anak-anaknya untuk menjadi seorang yang disiplin waktunya dan kuat tekadnya agar sang anak kelak bisa menjadi orang yang sukses dikemudian hari? Atau malah seorang ibu terlena dengan urusan me time nya, hangout bersama teman, sibuk berselfie ria, atau malah sedang tergoda oleh iklan-iklan komersial yang banyak bertebaran di sosial media. Apakah seorang ibu sudah menjaga dirinya dengan makan-makanan yang halal dan thayyib agar jadi orang yang kuat dan sehat? Atau malah si ibu sibuk sampai-sampai tidak sempat lagi memikirkan makanan terbaik untuk keluarganya, yang penting bisa makan, urusan halal dan tayyib dibelakang.
Kita sebagai orang tua, kadang menutut banyak kepada anak-anak. Anak memang harapan dan tumpuan bagi orang tua. Tapi mereka punya hak, dan mereka punya dunianya sendiri. Tidak ada salahnya kita berharap tapi jangan pernah berhenti atau bahkan lelah untuk berikhtiar untuk menjadi teladan bagi anak-anak kita.
Bukankah cinta dan kasih seorang ibu adalah sepanjang masa. Meskipun kelak jika seandainya harapan yang pernah dibangun itu tidak berwujud menjadi nyata atau bahkan pupus terganti oleh sikap yang mengecewakan dari anak-anak kita, kasih itu akan selalu ada dan hadir untuk mereka.
Maka ibu, berdoalah. Bukankah doa yang keramat bagi seorang anak adalah doa ibunya? Maka jadikan ini senjata buat kita sebagai ibu. Doakan yang terbaik untuk mereka, jangan pernah terlontar emosi dan kemarahan untuk mereka. Golden tiket anak-anak kita ada pada ibunya. Manfaatkan moment itu. Jangan pernah merasa bosan, lelah bahkan lupa. Berdoalah sebanyak-banyaknya, berikan doa terbaik kita untuk mereka mumpung kita masih diberi nafas oleh Allah swt. Ketika kita, seorang ibu, tidak ada lagi didunia ini, maka satu tiket emas kesuksesan untuk urusan dunia dan akhirat untuk anak kita pun lenyap. Ketika kesempatan masih ada mengapa tidak kita hadirkann doa dan ridho kita setiap hari, setiap saat kepada anak-anak kita. Ridho Allah, ada pada ridho orang tua. Allah ridho maka surga baginya. Sehingga kelak seorang ibu yang diridhoi, ayah yang diridhoi, dan anak-anak yang dirdhoi kelak akan berkumpul kembali bersama di surga.
9 comments:
Super sekali....emak2 kuat yg insyaa allah sholehah
Mantap. Mengalir lancar
Tulisan hebat. Emak2 keren.👍 bukankah Surga di telapak kaki ibu.
Mantap the power of emak2
😍😍
Terima kasih Guru🙏
Mohon bimbingannya
Salah satu emak hebat yang pernah saya lihat adalah Dg Tene bunda nya nauval
Semangat buat para emak💪💪
emak emak selalu terdepan
Post a Comment