Thursday, July 9, 2020

JANGAN LAGI ADA IBU MALIN KUNDANG



Oleh: Uswatun Hasanah


Pernahkah anda dikecewakan? Bagaimana rasanya? Pastinya menyakitkan. Apalagi jika kita dikecewakan oleh orang terdekat kita. Kita telah menaruh harapan besar kepadanya namun yang kita doapatkan hanya rasa sakit hati karena kecewa.

Kecewa bisa dialami oleh siapa saja, bisa dirasakan dikalangan usia manapun, juga bisa dirasakan oleh seorang ibu. Ibu yang dikecewakan oleh anaknya. Salah satu kisah santer yang pernah kita dengar ketika kita kecil mengenai kisah seorang ibu yang dibuat kecewa dan hancur hatinya oleh ulah anaknya yang durhaka, yakni kisah Si Malin  Kundang.  

Ibu Malin telah merawat anaknya dengan penuh kasih sayang dan dengan berat hati harus rela berpisah dengan sang buah hati yang sangat dicintainya itu. Dan dikala waktu yang telah dinantikan tiba. Sang anak tidak mengakui keberadaan ibunya. Ia malu memiliki ibu yang miskin sedangkan Malin telah menjadi sosok yang hebat dan kaya raya. Malin lupa diri. Ia lupa dengan semua pengorbanan ibundanya. Rasa sedih yang mendera sang ibu membuat amarah ibu Malin bangkit sehingga ia mengutuk sang anak menjadi batu.

Kisah ini membawa hikmah. Jangan durhakai ibumu. Jangan kecewakan perempuan yang telah merawatmu dengan sepenuh hati. Yang telah menghabiskan masanya demi merawatmu dengan penuh kasih sayang. Sang anak harus berbakti menjadi anak yang patuh dan hormat kepada orang tuanya bagaimanapun kondisinya, termasuk ibunya.

Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, apakah yang dilakukan oleh ibu Malin adalah sesuatu yang dapat dibenarkan? Apakah pantas seorang ibu yang marah kepada anaknya lantas dapat dengan mudah melontarkan kata-kata kutukan kepada sang anak? Disini kita tidak menafikan kelakuan durhaka Malin kepada ibunya. Namun tidak lantas begitu saja membenarkan apa yang dilakukan oleh sang ibu.

Dikecewakan oleh anak yang telah dirawat sepenuh cinta pastinya sesuatu yang berat dan menyedihkan. Anak adalah investasi terbesar yang dimiliki orang tua. Para orang tua menaruh harapan kepada diri sang anak. Karena alasan itulah, para orang tua rela menghabiskan waktunya, mencurahkan segala kasih sayangnya, memberikan seluruh hartanya demi memenuhi keperluan sang anak. Seakan-akan apa yang telah dan selalu kita lakukan suatu saat akan dibayar oleh anak dimasa yang akan datang dengan cara menuruti segala keinginan kita.

Sebagai orang tua, terutama ibu, kita memiliki impian melihat anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik hingga ia dewasa. Kita merasa dengan memilihkan sesuatu yang sesuai dengan ukuran kita, itulah yang terbaik baginya. Kita lupa, anak kita juga manusia biasa yang memiliki impian dan standarnya sendiri. Sudah seharusnya kita memberikan waktu, harta, cinta dan kasih sayang kepada anak tanpa syarat. Anak adalah titipan. Sesuatu yang dititip pada dasarnya bukanlah milik kita. Kita hanya bertugas menjaga dan merawatnya dengan penuh cinta karena ia adalah amanah yang Allah berikan kepada kita. Amanah patut dijalankan dan ketika amanah itu telah selesai, maka kita patut melepasnya dengan lapang dada.

Dalam kisah Malin Kundang, penulis tidak tahu bagaimana perasaan sang ibu selanjutnya setelah ia mengutuk anaknya. Menyaksikan anak sendiri mati dan kaku menjadi batu apakah kemudian memunculkan penyesalan atau justru kepuasan pada diri sang ibu.  

Ibu yang memiliki kasih sayang tak terbatas, pasti akan sedih ketika melihat anaknya menderita. Ia rela  mengorbankan dirinya agar anak tidak sengsara. Namun betapa menyakitkannya ketika kesengsaraan yang dirasakan oleh anak adalah akibat dari perkataan keramat yang dilontarkan oleh ibu yang penuh amarah. Kita pernah mendengar “Perkataan adalah Doa”. Setiap perkataan ibu yang diucapkan untuk anaknya dapat mewujud menjadi nyata. Maka seorang ibu sudah seharusnya berkata yang baik kepada anak agar apa yang diucapkannya itu juga membawa kebaikan kepada anak. Betapapun amarah ibu kepada anak, ibu sebaiknya menahan diri berkata yang tidak pantas.

Ibu yang memiliki kasih sayang tak terbatas, dapat membuka pintu maaf untuk anak-anaknya. Memberikan kesempatan pada anak untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki dirinya  Mendokan yang terbaik bagi mereka, memohon kepada Allah agar anak dapat menjadi hamba yang sholeh dan taat kepada orang tua. Jangan lagi ada ibu Maling Kundang lainnya yang dapat dengan mudah mengucapkan kata-kata kutukan kepada sang anak hanya karena ia kecewa telah disakiti oleh sang buah hati. Kita harus menyadari segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah, maka selayaknya kita kembalikan pula kepada Allah. Kita tidak berhak menghukumi  sesutu yang bukan milik kita. Kita hanya dapat mengadu kepada Allah dan memohon yang terbaik. Karena semuanya akan kembali kepada Allah. Kita hanya bisa berharap dapat kembali kepadaNya, berkumpul bersama keluarga yang kita cintai dalam naungan ridho-Nya.

OVERTHINKING DAN SOLUSINYA



 Oleh: Uswatun Hasanah

Manusia diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk sempurna dibanding ciptaan Allah lainnya. Manusia diciptakan unik dan spesial. Mereka dilengkapi dengan potensi atau dengan istilah sekarang dinamakan perangkat yang super duper canggih. Perangkat atau potensi pada diri manusia ini memiliki hikmah penciptaannya masing-masing.

Potensi yang pertama adalah Jasad atau tubuh. Tubuh manusia terbentuk dari beragam unsur kimia kompleks yang menjelma menjadi sosok manusia yang rupawan.  Sebagaimana yang tertuang dalam salah satu firman Allah:

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ
Artinya: “ Dia membentuk rupamu lalu memperbagus rupamu” (QS. At Taghabun: 3)

Potensi manusia yang kedua adalah akal. Akal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal, manusia menjadi makhluk yang spesial dan sempurna. Akal digunakan manusia untuk berfikir mengenai dirinya, alam semesta dan penciptanya. Dengan Akal itu pulalah manusia berperan menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. 
Allah berfirman: 

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Qs. Ali Imran 190-191)
Selanjutnya yang ketiga adalah potensi ruhiyah. Potensi ini lebih dikenal dengan istilah hati nurani. Manusia memiliki potensi ruhiyah atau hati nurani untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, memilih antara haq maupun yang batil, serta memilih jalan takwa atau jalan Fujur.Sebagaimana dalam firman Allah Qs. Asy Syam ayat 7- 8:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا  . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan” (Qs. Asy-Syam: 7-8)
Dari ketiga potensi yang dimiliki inilah seyogyanya manusia menggunakannya dengan sebaik-baiknya serta menjaganya dari hal-hal yang merusaknya. Dan kali ini penulis hanya akan membahas hal yang berkaitan dengan salah satu potensi manusia yang telah dituliskan di atas yakni Akal.

Akal merupakan filter yang memberikan pengaruh terhadap apapun informasi yang masuk dalam diri kita, berupa informasi yang kita dapatkan melalui pendengaran, penglihatan, bahkan apa yang kita makan yang kemudian mewujud menjadi perilaku. Semua itu terjadi melalui proses berfikir. Berfikir adalah hal yang normal. Manusia bisa memikirkan banyak sekali hal dalam sehari. Kemampuan berfikir yang dimiliki oleh manusia sanggup mengalahkan komputer paling canggih yang ada di dunia ini. 

Namun ada satu masalah yang terkadang tidak disadari oleh seseorang yang sedang berfikir. Ketika seseorang terlalu memikirkan banyak sekali hal yang belum tentu terjadi yang disertai rasa kecemasan. Hal ini kemudian berdampak pada aktifitas hariannya. Kesulitan untuk tidur dengan tenang, rasa cemas yang berlebihan, akhirnya tidak sanggup melakukan apa-apa alias tidak produktif. Hal seperti ini dinamakan Overthinking.

Overthinking  merupakan salah satu gangguan mental yang dialami dengan gejala berupa kecemasan yang disebabkan karena memikirkan sesuatu yang mengganjal secara terus menerus. Perempuan apalagi seorang ibu bisa saja mengalami kejadian seperti ini. Perempuan yang memiliki insting perasa yang lebih dominan, seringkali dihadapkan dengan masalah-masalah rumah tangga, pekerjaan kantor, atau masalah dengan teman maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini kemudian membuat wanita terjebak dalam kondisi overthinking. Kekhawatiran selalu hadir. Takut jika yang telah dilakukannya itu mengecewakan orang-orang yang disekitarnya. Rasa bersalah karena belum maksimal berbakti sebagai seorang istri, rasa bersalah karena belum bisa menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan baik, serta perasaaan-perasaan  atau aneka kecemasan lainnya yang belum tentu terjadi.
 
Banyak ibu-ibu yang terlalu takut melepas anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Ketika seorang anak yang mulai menginjakkan kaki di bangku sekolah apalagi pada tingkat yang lebih tinggi biasanya seorang anak sudah punya keinginan untuk keluar dari lingkungan tempatnya tinggal. Misalnya anak yang ingin melanjutkan pendidikannya di pondok, terkadang orang pertama yang kuatir adalah sang ibu. Dia akan memikirkan nasib anaknya kelak ketika anak tidak lagi ada dalam pandangannya. Seorang anak yang ingin kuliah di kota dan berpisah dengan  orangtuanya, terkadang menghadirkan kecemasan pada diri ibunya. Hal ini adalah sesuatu yang wajar karena anak-anak yang telah kita jaga semenjak mereka dilahirkan kini harus berpisah dari kita. Berbagai macam upaya kita lakukan untuk menjaga dan merawat mereka. Kita telah paham dan tahu sampai di luar kepala apa yang terbaik dan paling mereka sukai. Namun kemudian tiba-tiba mereka akan pergi menjalani mimpinya. Hal ini membuat seorang ibu terkadang tidak rela melepaskan. Rasa kuatir mengenai anak selalu saja hadir. Akankah mereka kelak bisa menjaga diri mereka seperti ibunya merawat mereka. Mereka makan dimana, makan apa, bergaul dengan siapa. Semua pertanyaan itu selalu muncul dan menghantui fikiran ibu. Ini hanya salah satu contoh bentuk kekuatiran yang biasa hadir dalam fikiran para emak. Dan masih banyak lagi fikiran-fikiran lagi yang senantiasa berseliweran dalam fikirannya.

Orang yang overthinking selalu menghadirkan pertanyaan dalam fikiran tentang “ bagaimana jika?” hal ini jika terus menerus dilakukan justru memberi dampak yang tidak baik pada tindakan yang akan kita ambil nantinya. Kita jadi sulit melakukan tindakan dan mengambil keputusan karena terlalu banyak pertimbangan. Pemikirian antisipatif ini tidak masalah selama tidak berlebihan. Memikirkan hal yang buruk yang belum tentu terjadi juga bisa mengganggu. Perasaan tidak aman dan curiga membuat sesorang hidupnya tidak tenang dan semakin tenggelam dalam  ketakutannya. Hal lain yang juga dapat membuat orang overthinking adalah selalu memikirkan maksud dari pernyataan orang lain. Berusaha memahami maksud orang lain adalah sesuatu yang baik. Dengan begitu kita akan dapat mengerti dengan kondisinya. Akan tetapi jika setiap hal ingin kita ketahui lebih jauh justru tidak bagus. Kita akan tenggelam dalam prasangka-prasangka kita sendiri. Kita terjebak dalam fikiran kita sendiri yang belum tentu sesuatu yang kita fikirkan itu akan terjadi. Kita terlalu cemas pada sesuatu yang tentu terjadi. Wal hasil kita pusing, bingung bahkan sampai stress sehingga kemudian kita tidak tahu harus melakukan apa. Pemikiran solutif tidak bisa muncul karena terhalang oleh gaya berlebihan kita dalam berfikir.

Syaitan senantiasa membisikkan dalam hati manusia perasaan was-was. Ada dua jenis bisikan syaitan yang bisa mengarah pada perilaku overthinking ini.

Yang pertama adalah syaitan membuat manusia sibuk memikirkan sesutu yang telah terjadi. Manusia diajak untuk selalu berandai-andai atas kejadian yang telah lampau. Seakan kejadian tersebut dapat diulang. Padahal Rasulullah melarang tindakan beranda-andai tesebut.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya: Jika sesuatu (yang tidak engkau inginkan) menimpamu, maka jangan pula mengatakan: “Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian,” namun katakanlah: “Qadarullah wa  ma syaa ‘a fa’ala” karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, juz VII, hal. 56, hadits no. 6945)

Yang kedua syetan akan menyibukan manusia dengan memikirkan sesuatu yang belum terjadi.  Syaitan memunculkan rasa cemas atas kejadian-kejadian dimasa yang akan datang. Padahal apa yang kelak terjadi dimasa depan adalah adalah rahasia Allah dan manusia hanya bisa berusaha dan hanya Allahlah yang maha penentu. Sebagaimana firman Allah:
“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Q.S. At Taubah: 51)
Oleh karena itu, kita perlu melakukan upaya untuk mencegah fikiran berlebihan atau overthinking ini selalu menghantui fikiran kita. Ada beberapa hal bisa kita lakukan, di antaranya adalah:
  1. Kurangi aktifitas rebahan. Dimasa pandemi Covid 19 seperti saat ini, sering kita mendengar istilah “menjadi pahlawan dengan rebahan”. Kegiatan rebahan pada dasarnya adalah kegiatan mengistirahatkan tubuh setelah melakukan aktifitas yang melelahkan. Namun jika rebahan yang dilakukan terus menerus membuat kita tidak bisa melakukan kegitan lain yang lebih menuntut aktifitas fisik. Sehingga mau tidak mau karena tidak memiliki kegiatan. Kita akan mulai memikirkan macam-macam hal yang bahkan tidak berguna atau sia-sia. Ini adalah jalan terjadi nya overthinking itu. Orang yang tidak disibukkan dengan aktifitas yang berguna maka akan menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia. 
  2. Fokus dengan apa yang terjadi saat ini. Jangan membuang-buang waktu dengan memikirkan masa lalu yang sudah terjadi dan menyia-nyiakan masa kini dengan kecemasan mengenai masa depan yang belum tentu terjadi. Setiap orang memiliki masa lalu, dan kejadian masa lalu cukup dijadikan sebagai pelajaran. Jangan pernah hidup dalam bayang-bayang masa lalu karena sejatinya bayangan itu adalah semu, ia tidak pernah bisa mewujud menjadi nyata. Setiap orang juga punya impian mengenai masa depan, dan untuk meraih impian masa depan harus dimulai dengan aksi di masa kini, di sini dan sekarang. Cita-cita tidak pernah bisa berwujud hanya dengan bermimpi tetapi juga perlu bangkit dan berusaha untuk menggapainya 
  3. Tuliskan apa yang engkau fikirkan. Terkadang orang yang berfikir berlebihan akan memikirkan banyak sekali hal. Ada baiknya apa yang ada dalam fikiran tersebut dituang dalam tulisan. Karena ide itu ibarat jelangkung yang bisa hadir tanpa diundang dan bisa pergi tanpa diantar. Ketika fikiran itu hadir maka ada baiknya dituliskan dalam catatan kita yang suatu saat bisa kita baca kembali. Apa yang hadir dalam fikiran dapat lenyap seketika namun ide yang dituang dalam tulisan dapat tersimpan dan abadi. Bahkan bisa saja menjadi sebuah karya di masa yang akan datang.
  4. Selalu sertakan Allah dalam setiap urusan kita. Hal ini sudah sering kali kita dengarkan. Namun  terkadang kita lupa menempatkan Allah pada setiap urusan kita. Kita memasrahkan segala urusan kita ke Allah pada saat kita telah berusaha maksimal. Padahal seharusnya setiap memulai sesuatu kita sudah harus lebih dahulu menyerahkannya pada Allah, kita sandarkan kepada Allah urusan yang akan kita lakukan. Kita dapat melakukan dengan berdoa sebelum memulai sesuatu hal, melakukan sholat hajat sebelum bekerja, dan lain sebagainya. Pun pada saat kita sedang melakukan sesuatu kita senantiasa menghadirkan Allah dalam hati kita, tidak bersandar pada kemampuan diri maupun manusia lainnya, meminta petunjuk kepada Allah untuk menuntun kita, karena sebagai manusia yang terbatas kemampuannya, kita tidak pernah tahu apakah yang kita lakukan ini kelak akan berhasil atau tidak. Dan yang selanjutnya adalah setelah semuanya kita lakukan, setelah semua daya dan upaya telah kita kerahkan. Maka kita kembali menyerahkan segala sesutunya kepada Allah. Kita manusia hanya berusaha. Manusia berproses. Manusia bertindak. Diakhir dari semua itu, Allahlah penentu .  Just do the best, let Allah do the rest. Apa yang telah terjadi adalah takdirNya dan apa yang akan terjadi adalah rahasiaNya.

Jika hal demikian di atas kita lakukan maka, kita tidak akan lagi merasa cemas dengan apa yang selalu dalam hadir dalam fikiran kita yang berlebihan. Kita akan berusaha melakukan yang terbaik. Kita akan menjadi orang-orang yang produktif dan selalu bersemangat dalam beraktifitas. Dan dari semua hal tersebut ada Dzat yang maha penentu.

Monday, July 6, 2020

PERAN MUSICAL INTELLIGENCE UNTUK PERKEMBANGAN ANAK






Oleh: Herman Resyadi

Musik memiliki sejarah yang sangat panjang dalam kehidupan manusia. Kehadiran musik hampir tidak bisa diketahui mula keberadaaannya. Sejak jaman dahulu kehadiran musik digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan, ilmu, dan berita. Hal ini banyak dibuktikan oleh syair-syair dan lagu-lagu terdahulu yang turun temurun dan bahkan masih ada hingga saat ini. Eksistensi musik sebagai sebuah media untuk menyampaikan ilmu merupakan bentuk dari adaptasi manusia dimana belum adanya media cetak atau teknnologi internet pada saat itu. 

Salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia adalah kemampuan untuk mengenal, merasakan, mengolah, memainkan musik. Kemampuan ini disebut sebagai dengan Musical Intelligence. Sebagaimana yang Howard Gardner rumuskan dalam bukunya “Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligence” tentang berbagai kecerdasan manusia. Setiap individu memiliki Musical Intelligence dalam dirinya, namun tingkatannya tentu berbeda-beda. Contoh sederhana beberapa orang mampu dengan mudah bernyayi dengan nada dan tempo yang sangat akurat, namun disisi lain ada juga orang yang tidak mahir dalam melakukan hal ini dengan benar.

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa musik digunakan untuk menyampaikan informasi sejak jaman dahulu. Pada saat sekarang ini musik masih menjadi salah satu media yang sangat efektif untuk mentransfer ilmu utamanya pada anak-anak. Contohnya, pembelajaran pada tingkat TK, anak-anak diajarkan untuk menghafal warna-warna melalui lagu. Penggunaan musik ini sangat sesuai bagi anak-anak untuk merangsang kinerja otak mereka pada proses transfer ilmu sekaligus meningkatkan kemampuan Musical Intelligence mereka.

Mengembangkan dan merangsang kemampuan Musical Intelligence anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah belajar memainkan instrumen musik. Bermain alat musik secara langsung akan melatih keseimbangan otak kanan dan kiri. Hal ini dikarenakan kinerja otak akan bekerja bersamaan untuk mengolah informasi berupa teori dan praktik yang sekaligus disalurkan melalui alat musik. Selain itu hal ini juga sekaligus melatih kesabaran dalam belajar, kreativitas dalam mengolah nada, danmerasakan secaramendalam musik yang dimaikan. Oleh karena itu, melalui arahan, pendidikan, dan fasilitas musik yang tepat akan membantu anak meningkatkan kemampuan Muisical Intelligence nya diatas rata-rata sehingga akan memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain.

JANGAN LAGI ADA IBU MALIN KUNDANG

Oleh: Uswatun Hasanah Pernahkah anda dikecewakan? Bagaimana rasanya? Pastinya menyakitkan. Apalagi jika kita dikecewakan ole...