Oleh: Uswatun Hasanah
Manusia diciptakan
oleh Allah swt sebagai makhluk sempurna dibanding ciptaan Allah lainnya.
Manusia diciptakan unik dan spesial. Mereka dilengkapi dengan potensi atau
dengan istilah sekarang dinamakan perangkat yang super duper canggih. Perangkat
atau potensi pada diri manusia ini memiliki hikmah penciptaannya
masing-masing.
Potensi yang pertama
adalah Jasad atau tubuh. Tubuh manusia
terbentuk dari beragam unsur kimia kompleks yang menjelma menjadi sosok manusia
yang rupawan. Sebagaimana yang tertuang
dalam salah satu firman Allah:
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ وَصَوَّرَكُمۡ
فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ
Artinya: “ Dia membentuk rupamu lalu
memperbagus rupamu” (QS. At Taghabun: 3)
Potensi manusia yang
kedua adalah akal. Akal inilah yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal, manusia menjadi makhluk
yang spesial dan sempurna. Akal digunakan manusia untuk berfikir mengenai
dirinya, alam semesta dan penciptanya. Dengan Akal itu pulalah manusia berperan
menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ
وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ
قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ
فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Qs. Ali Imran
190-191)
Selanjutnya yang
ketiga adalah potensi ruhiyah. Potensi ini lebih
dikenal dengan istilah hati nurani. Manusia memiliki potensi ruhiyah atau hati
nurani untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, memilih antara haq
maupun yang batil, serta memilih jalan takwa atau jalan Fujur.Sebagaimana dalam
firman Allah Qs. Asy Syam ayat 7- 8:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: “Demi jiwa dan
penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaan” (Qs. Asy-Syam: 7-8)
Dari ketiga potensi yang dimiliki inilah
seyogyanya manusia menggunakannya dengan sebaik-baiknya serta menjaganya dari
hal-hal yang merusaknya. Dan kali ini penulis hanya akan membahas hal yang
berkaitan dengan salah satu potensi manusia yang telah dituliskan di atas yakni
Akal.
Akal merupakan filter yang memberikan pengaruh
terhadap apapun informasi yang masuk dalam diri kita, berupa informasi yang
kita dapatkan melalui pendengaran, penglihatan, bahkan apa yang kita makan yang
kemudian mewujud menjadi perilaku. Semua itu terjadi melalui proses berfikir.
Berfikir adalah hal yang normal. Manusia bisa memikirkan banyak sekali hal dalam
sehari. Kemampuan berfikir yang dimiliki oleh manusia sanggup mengalahkan
komputer paling canggih yang ada di dunia ini.
Namun ada satu masalah yang terkadang tidak
disadari oleh seseorang yang sedang berfikir. Ketika seseorang terlalu
memikirkan banyak sekali hal yang belum tentu terjadi yang disertai rasa
kecemasan. Hal ini kemudian berdampak pada aktifitas hariannya. Kesulitan untuk
tidur dengan tenang, rasa cemas yang berlebihan, akhirnya tidak sanggup
melakukan apa-apa alias tidak produktif. Hal seperti ini dinamakan Overthinking.
Overthinking
merupakan salah satu gangguan mental
yang dialami dengan gejala berupa kecemasan yang disebabkan karena memikirkan
sesuatu yang mengganjal secara terus menerus. Perempuan apalagi seorang ibu bisa saja mengalami
kejadian seperti ini. Perempuan yang memiliki insting perasa yang lebih
dominan, seringkali dihadapkan dengan masalah-masalah rumah tangga, pekerjaan
kantor, atau masalah dengan teman maupun lingkungan sekitarnya. Hal ini kemudian
membuat wanita terjebak dalam kondisi overthinking. Kekhawatiran selalu
hadir. Takut jika yang telah dilakukannya itu mengecewakan orang-orang yang
disekitarnya. Rasa bersalah karena belum maksimal berbakti sebagai seorang
istri, rasa bersalah karena belum bisa menjaga dan mendidik anak-anaknya dengan
baik, serta perasaaan-perasaan atau
aneka kecemasan lainnya yang belum tentu terjadi.
Banyak ibu-ibu yang terlalu takut melepas
anak-anaknya yang mulai beranjak dewasa. Ketika seorang anak yang mulai
menginjakkan kaki di bangku sekolah apalagi pada tingkat yang lebih tinggi
biasanya seorang anak sudah punya keinginan untuk keluar dari lingkungan
tempatnya tinggal. Misalnya anak yang ingin melanjutkan pendidikannya di
pondok, terkadang orang pertama yang kuatir adalah sang ibu. Dia akan memikirkan
nasib anaknya kelak ketika anak tidak lagi ada dalam pandangannya. Seorang anak
yang ingin kuliah di kota dan berpisah dengan
orangtuanya, terkadang menghadirkan kecemasan pada diri ibunya. Hal ini
adalah sesuatu yang wajar karena anak-anak yang telah kita jaga semenjak mereka
dilahirkan kini harus berpisah dari kita. Berbagai macam upaya kita lakukan
untuk menjaga dan merawat mereka. Kita telah paham dan tahu sampai di luar
kepala apa yang terbaik dan paling mereka sukai. Namun kemudian tiba-tiba mereka
akan pergi menjalani mimpinya. Hal ini membuat seorang ibu terkadang tidak rela
melepaskan. Rasa kuatir mengenai anak selalu saja hadir. Akankah mereka kelak bisa
menjaga diri mereka seperti ibunya merawat mereka. Mereka makan dimana, makan
apa, bergaul dengan siapa. Semua pertanyaan itu selalu muncul dan menghantui
fikiran ibu. Ini hanya salah satu contoh bentuk kekuatiran yang biasa hadir
dalam fikiran para emak. Dan masih banyak lagi fikiran-fikiran lagi yang
senantiasa berseliweran dalam fikirannya.
Orang yang overthinking selalu menghadirkan
pertanyaan dalam fikiran tentang “ bagaimana jika?” hal ini jika terus menerus
dilakukan justru memberi dampak yang tidak baik pada tindakan yang akan kita
ambil nantinya. Kita jadi sulit melakukan tindakan dan mengambil keputusan
karena terlalu banyak pertimbangan. Pemikirian antisipatif ini tidak masalah
selama tidak berlebihan. Memikirkan hal yang buruk yang belum tentu terjadi juga
bisa mengganggu. Perasaan tidak aman dan curiga membuat sesorang hidupnya tidak
tenang dan semakin tenggelam dalam
ketakutannya. Hal lain yang juga dapat membuat orang overthinking
adalah selalu memikirkan maksud dari pernyataan orang lain. Berusaha memahami
maksud orang lain adalah sesuatu yang baik. Dengan begitu kita akan dapat
mengerti dengan kondisinya. Akan tetapi jika setiap hal ingin kita ketahui
lebih jauh justru tidak bagus. Kita akan tenggelam dalam prasangka-prasangka
kita sendiri. Kita terjebak dalam fikiran kita sendiri yang belum tentu sesuatu
yang kita fikirkan itu akan terjadi. Kita terlalu cemas pada sesuatu yang tentu
terjadi. Wal hasil kita pusing, bingung bahkan sampai stress sehingga kemudian
kita tidak tahu harus melakukan apa. Pemikiran solutif tidak bisa muncul karena
terhalang oleh gaya berlebihan kita dalam berfikir.
Syaitan senantiasa membisikkan dalam hati
manusia perasaan was-was. Ada dua jenis bisikan syaitan yang bisa mengarah pada
perilaku overthinking ini.
Yang pertama adalah syaitan membuat manusia sibuk memikirkan sesutu yang telah terjadi.
Manusia diajak untuk selalu berandai-andai atas kejadian yang telah lampau. Seakan
kejadian tersebut dapat diulang. Padahal Rasulullah melarang tindakan beranda-andai
tesebut.
وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ
كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ
عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Artinya: Jika sesuatu (yang tidak engkau
inginkan) menimpamu, maka jangan pula mengatakan: “Andaikan aku berbuat
demikian tentu tidak akan terjadi demikian,” namun katakanlah: “Qadarullah
wa ma syaa ‘a fa’ala” karena
berandai-andai membuka tipuan setan.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah, Shahîh Muslim, juz
VII, hal. 56, hadits no. 6945)
Yang kedua syetan akan menyibukan manusia dengan memikirkan sesuatu yang belum
terjadi. Syaitan memunculkan rasa cemas
atas kejadian-kejadian dimasa yang akan datang. Padahal apa yang kelak terjadi
dimasa depan adalah adalah rahasia Allah dan manusia hanya bisa berusaha dan
hanya Allahlah yang maha penentu. Sebagaimana firman Allah:
“Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah
ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah
orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (Q.S. At Taubah: 51)
Oleh karena
itu, kita perlu melakukan upaya untuk mencegah fikiran berlebihan atau
overthinking ini selalu menghantui fikiran kita. Ada beberapa hal bisa kita
lakukan, di antaranya adalah:
- Kurangi aktifitas rebahan. Dimasa pandemi Covid 19 seperti saat ini, sering
kita mendengar istilah “menjadi pahlawan dengan rebahan”. Kegiatan rebahan pada
dasarnya adalah kegiatan mengistirahatkan tubuh setelah melakukan aktifitas
yang melelahkan. Namun jika rebahan yang dilakukan terus menerus membuat kita
tidak bisa melakukan kegitan lain yang lebih menuntut aktifitas fisik. Sehingga
mau tidak mau karena tidak memiliki kegiatan. Kita akan mulai memikirkan macam-macam
hal yang bahkan tidak berguna atau sia-sia. Ini adalah jalan terjadi nya
overthinking itu. Orang yang tidak disibukkan dengan aktifitas yang berguna
maka akan menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia.
- Fokus dengan apa yang terjadi saat ini. Jangan membuang-buang waktu dengan
memikirkan masa lalu yang sudah terjadi dan menyia-nyiakan masa kini dengan
kecemasan mengenai masa depan yang belum tentu terjadi. Setiap orang memiliki
masa lalu, dan kejadian masa lalu cukup dijadikan sebagai pelajaran. Jangan pernah
hidup dalam bayang-bayang masa lalu karena sejatinya bayangan itu adalah semu,
ia tidak pernah bisa mewujud menjadi nyata. Setiap orang juga punya impian
mengenai masa depan, dan untuk meraih impian masa depan harus dimulai dengan
aksi di masa kini, di sini dan sekarang. Cita-cita tidak pernah bisa berwujud
hanya dengan bermimpi tetapi juga perlu bangkit dan berusaha untuk menggapainya
- Tuliskan apa yang engkau fikirkan. Terkadang orang yang berfikir berlebihan
akan memikirkan banyak sekali hal. Ada baiknya apa yang ada dalam fikiran tersebut
dituang dalam tulisan. Karena ide itu ibarat jelangkung yang bisa hadir tanpa
diundang dan bisa pergi tanpa diantar. Ketika fikiran itu hadir maka ada
baiknya dituliskan dalam catatan kita yang suatu saat bisa kita baca kembali. Apa
yang hadir dalam fikiran dapat lenyap seketika namun ide yang dituang dalam
tulisan dapat tersimpan dan abadi. Bahkan bisa saja menjadi sebuah karya di
masa yang akan datang.
- Selalu sertakan Allah dalam setiap urusan kita. Hal ini sudah sering kali
kita dengarkan. Namun terkadang kita
lupa menempatkan Allah pada setiap urusan kita. Kita memasrahkan segala urusan
kita ke Allah pada saat kita telah berusaha maksimal. Padahal seharusnya setiap
memulai sesuatu kita sudah harus lebih dahulu menyerahkannya pada Allah, kita
sandarkan kepada Allah urusan yang akan kita lakukan. Kita dapat melakukan
dengan berdoa sebelum memulai sesuatu hal, melakukan sholat hajat sebelum
bekerja, dan lain sebagainya. Pun pada saat kita sedang melakukan sesuatu kita
senantiasa menghadirkan Allah dalam hati kita, tidak bersandar pada kemampuan
diri maupun manusia lainnya, meminta petunjuk kepada Allah untuk menuntun kita,
karena sebagai manusia yang terbatas kemampuannya, kita tidak pernah tahu
apakah yang kita lakukan ini kelak akan berhasil atau tidak. Dan yang
selanjutnya adalah setelah semuanya kita lakukan, setelah semua daya dan upaya
telah kita kerahkan. Maka kita kembali menyerahkan segala sesutunya kepada
Allah. Kita manusia hanya berusaha. Manusia berproses. Manusia bertindak. Diakhir
dari semua itu, Allahlah penentu . Just do the best, let Allah do the rest. Apa yang telah terjadi adalah takdirNya dan apa yang akan terjadi adalah rahasiaNya.
Jika hal demikian di atas
kita lakukan maka, kita tidak akan lagi merasa cemas dengan apa yang selalu
dalam hadir dalam fikiran kita yang berlebihan. Kita akan berusaha melakukan
yang terbaik. Kita akan menjadi orang-orang yang produktif dan selalu bersemangat dalam beraktifitas. Dan dari semua hal tersebut ada Dzat yang maha
penentu.